-Prolog-
Kupasang handsfree di handphoneku dan kupasang handsfree tersebut di kedua telingaku. Kusandarkan kepalaku di kursi mobil yang sedang melaju, menikmati lagu yang sedang mengalun d telingaku. Aku tersenyum, dan tertidur...
-Story Begin-
"Mwo?! Indonesia?", aku dan hyung terbelalak mendengar ucapan manager kami.
"Memang kenapa?", manager hyung heran dengan reaksi kami.
"Hyung, apa di sana ada orang yang tahu tentang kami?", Yunho hyung menyuarakan keheranan kami berlima.
"Hahaha. Kalian tidak tahu rupanya. Di sana sudah ribuan orang yang membuat petisi, mengharapkan kalian untuk konser di sana. Bagaimana?"
Hyung dan aku saling bertatap-tatapan, lalu spontan kami semua langsung berteriak, "Yahuu!"
Manager hyung memandangi kami berlima dengan heran.
"Sudah lama aku ingin mengunjungi negri berpulau banyak itu!", kata Jaejoong hyung.
"Betul! Selama ini kita pergi ke tempat-tempat di dekatnya tapi tidak pernah sampai ke sana!", Yunho hyung menimpali.
"Ingin sekali-sekali rasanya menginjakkan kaki di sana", Yuchun hyung ikut bicara juga.
"Iya! Banyak lautnya! Keren!!", Junsu hyung tak mau kalah.
"Ya! Ingin rasanya segera mencicipi makanan khas di sana!", aku juga ikut bicara, tapi perkataanku menimbulkan tatapan gemas dari para hyungku.
"Changmin a.. Kapan kau akan berhenti memikirkan makanan??", Yuchun hyung menjepit leherku dengan lengannya dan hyung lainnya hanya tertawa.
"Aaw. Sakit, hyung..", aku mengerang kesakitan.
Hmm.. Indonesia. Kami akan menggelar konser di sana. Kami pasti akan memuaskan hati Cassiopeia yang telah menunggu di sana. Tunggu kami, Indonesia. Kami datang!.
To be Continue~
2010/06/10
2010/06/02
Delayed Confession *FF for Mei *
“Ne.. Nanti hubungi aku lagi ya.. Ne.. Annyeong..”, krek.. Aku menekan tombol end call pada handphoneku. Aku tersenyum melihat wallpaper handphoneku dan tiba-tiba tanganku mulai gatal, ingin menulis sesuatu. Aku segera mengambil buku biru dari laci mejaku, mulai membukanya, dan mulai menggoreskan pena di atasnya.
Dear diary…
Entah kenapa, hari ini tiba-tiba kenangan itu mulai terlintas di kepalaku..
Kenangan indah saat itu….
~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~
Acara perpisahan kelas kami tinggal beberapa minggu lagi dan kelas kami belum menyiapkan apa-apa. Untunglah sekarang sedang diadakan pertemuan di kelas ini untuk membicarakan acara apa yang akan dipentaskan saat perpisahan nanti.
“HEI!!!”, YeonMi menggebrak meja 3 kali, “Dengarkan aku! Kalau kalian terus rebut seperti itu, kita tidak akan bias menentukan acaranya!!”
Tapi sepertinya percuma, tidak ada yang mendengarkan YeonMi. Semua sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Ada yang menggosipkan model di majalah, memoles kuku, yang pria tertawa keras-keras, kejar-kejaran. Pokoknya kacau!
YeonMi kelihatan lelah dan menghela nafas kencang-kencang. Aku tersenyum melihatnya dan memberi semangat untuknya.
“Hwaiting”, bisikku. Ia pun tersenyum melihatku.
Brak! YeonMi lagi-lagi menggebrak meja, kali ini sangat keras sehingga teman-teman mampu menghentikan kegiatannya dan mengalihkan pandangannya ke YeonMi.
“Karena kalian tidak ada yang menghargaiku, jadi aku yang memutuskan! Kita akan mementaskan drama Putri Salju! Skenario akan kutulis! Pemerannya pun sudah kutentukan!”, YeonMi menulis di papan tulis dengan cepat.
“Selesai!”, YeonMi menepuk-nepuk tangannya, membersihkannya dari sisa-sisa kapur, lalu membalikkan tubuhnya menghadap kami.
Berbagai ekspresi yang berbeda menghiasi wajah kami. Ada yang berekspresi ‘syukurlah..’, ada yang berekspresi ‘yah..boleh lah..’, ada yang berekspresi ‘untung peran kecil..’, dan ada yang berekspresi ‘apa-apaan ini?!’, termasuk aku!
Snow White: Im SooMi
Prince: Yang YoSeob
Witch: Jung Krystal
Hunter: Son DongWoon
7 Dwarves: *your imagination.. lol*
Aku ternganga melihat daftar pemain itu. YeonMi tampak tersenyum jahil melihat wajah bingungku. Selesai asik dengan dunia bingungku, aku menoleh ke YeonMi dan tyersenyum melihatnya, “YeonMi, kau sengaja ya..”, kataku dalam hati.
YeonMi tersenyum mengangguk melihatku, seakan mengerti maksudku. Aku melirik ke arah tempat duduk YoSeob, melihat ia yang sedang menggerutu, “Apa-apaan ini..!”. Aku menghela nafasku, menunduk kecewa.
Ya, aku memang sudah lama menyukai Yoseob. Tapi ia tidak pernah tahu, dan entah kenapa aku selalu merasa sifatnya dingin terhadapku. Hhh.. YoSeob a.. Apakah dia membenciku? Andai kau tahu perasaanku..
____________________________________________________________________
Tak terasa hari pementasan pun tiba. Aku merasa begitu gugup ketika di belakang panggung. YeonMi ada di tempat sound system karena ia bertindak sebagai narrator. Aku melihat sekeliling dan semua pemain sibuk dengan dirinya masing-masing. Omo... Siapapun..tenangkan aku...
Pluk. Aku merasakan ada yang menyentuh punggungku. Aku menoleh ke belakang dan mendapatkan senyum hangat DongWoon sedang mengarah kepadaku.
“Jangan takut.. Kau pasti bisa..”, DongWoon tersenyum lagi.
“Ah.. Ne..”, entah kenapa hatiku mulai tenang sekarang.
Suara YeonMi mulai terdengar.. Omo.. Sebentar lagi aku tampil!
“Masuklah!”, DongWoon mendorong punggungku, “Sudah giliranmu. Hwaiting!”
“Ne..”, giliran aku yang tersenyum padanya.
Tanpa kusadari.. Ada sepasang mata yang menatapku sebal. Perasaanku mendadak jadi tidak enak. Kuabaikan saja itu.
___________________________________________________________________
Saat memasuki backstage, kakiku tersangkut gaunku, dan aaw!
Bruuuk!
Aku masih menutup mataku, apa aku jatuh??
Lagi-lagi senyum itu yang kulihat saat membuka mataku. DongWoon... Ia menangkapku di lengannya yang kuat.
“Lain kali hati-hati ya..”, katanya dalam senyum ramahnya.
“Ne..”, aku sampai gugup.
Ia melepaskan tubuhku dan berjalan maju ke panggung.
Hooh.. aku menghela nafas dan berjalan pelan menuju kursi untuk beristirahat sebentar sebelum giliranku tiba.
Tapi tiba-tiba Krystal mendatangiku dan mendorong bahuku tapi syukurlah kekuatannya belum bisa membuatku terjatuh.
“Ya!!”, aku sedikit berteriak.
“Kau sengaja kan?”, Krystal tidak mau kalah.
“M..Mwo??”, aku tidak mengerti apa maksudnya.
Dia mendorongku lagi, “Kau tadi sengaja menjatuhkan tubuhnu kan ke DongWoon? Kau tahu kan DongWoon di depanmu akan menangkapmu! Kau sengaja kan?!”
“Ya! Kau salah paham! Tadi aku tersandung dan kebetulan saja ada DongWoon di depanku. Ara?!”
“Aah! Kau tidak usah berpura-pura! Kau pasti...”
“Hentikan! Ada apa ini!”, tiba-tiba ada suara dari belakangku dan Krystal seketika menghentikan ocehannya.
Aku menoleh dan terkejut. YoSeob??
“SooMi a.. Sudah hamper giliranmu, sebaiknya kau bersiap di dekat panggung.”, YoSeob memperingatkanku.
“N..Ne...”, aku melangkah pelang menuku panggung. Setengah jalan aku menoleh ke belakang, melihat Krystal yang masih menggerutu dan marah-marah dan YoSeob yang menenangkannya dengan menepuk kepalanya.
Aku meninggalkan pandangan sedihku dan masuk ke panggung.
____________________________________________________________________
Tibalah saat adegan yang kutunggu-tunggu. Saat sang pangeran membangunkanku dari tidurnya. Saat latihan YoSeob berkata dia tidak mau melakukan adegan itu, tunggu saat pentas saja katanya. Karena itulah...sekarang...
Aku terbaring dengan mata terpejam di atas peti-petian yang disiapkan teman-teman. Sedikit tidak nyaman di sini. Tap. Deg! Jantungku berhenti sedetik mendengar suara langkah berat yang melangkah ke arahku. Tap tap tap. Semakin dekat, semakin cepat detak jantungku. Tap. Ia berhenti!
Perlahan tercium wangi sabun pada bajunya, terasa nafas beratnya di wajahku. Ya Tuhan... Apakah aku sedang bermimpi.
Chuu~ Kurasakan kecupan kecil di pipiku. Pelan-pelan, terdengar suara tepukan tangan. Aku pun membuka mataku.
“Bbali ireona!”, bisik YoSeob.
“Aah.. Ne..”, aku bangun, duduk di petiku.
Teman-temanku yang berperan sebagai tujuh kurcaci bersorak mengelilingiku dan tulisan ‘END’ pun muncul di atas panggung. Tepukan semakin meriah dan aku berdiri melihat, bergandengan bersama pemain lain dan memberi hormat pada penonton.
Aku memegang pipiku dan mengingat kecupan tadi sekali lagi. Dilihat dari sudut penonton memang tidak masalah.. Tapi.. aku sedikit kecewa...
____________________________________________________________________
Pentas pun selesai. Kami sekelas berkumpul di kelas, berkeliling untuk bergiliran memberitahu rencana kami masing-masing setelah lulus nanti. Ada yang ingin bekerja, ada yang belum tahu, ada yang melanjutkan di perguruan tinggi, ada yang ke luar negeri, dll. Semua sudah mempunyai rencana masing-masing. Aku sendiri ingin melanjutkan ke universitas Kyung Hee bersama YeonMi.
Hampir tiba giliran YoSeob yang berbicara, inilah yang kutunggu-tunggu. Aku tidak pernah tahu akan kemana YoSeob setelah kami semua berpisah nanti. YoSeob tidak banyak bercerita tentang hal ini kepada teman-temannya.
“SooMi a... bisa aku minta tolong untuk belikan aku minum?”
Aku tercengang sebentar. YoSeob? Meminta tolong padaku? Mana mungkin aku menolak! Tapi... sebentar lagi gilirannya bicara... Sudahlah. Aku bisa Tanya YeonMi nanti.
“Tentu!”, aku tersenyum menerima uang dari YoSeob lalu segera berlari ke arah membeli minum untuk YoSeob.
____________________________________________________________________
Aku berlari sambil berhati-hati membawakan minuman YoSeob. Setibanya di depan kelas, aku berhenti sebentar untuk mengistirahatkan nafasku. Samar-samar terdengar suara YoSeob dari kelas.
“Untunglah aku belum terlambat”, pikirku. Tanpa ragu kulangkahkan kakiku ke dalam kelas.
“Setelah ini aku akan pergi ke Perancis, melanjutkan sekolah sekaligus bekerja dengan ayah di sana..”
Langkahku terhenti seketika.
“Kau... akan kembali ke sini lagi kan?”, Krystal bertanya.
“Molla...”, YoSeob terdiam sejenak, “Geundae...sepertinya tidak... Aku tinggal dengan ayahku di sana”
Jantungku seperti berhenti berdegup.
“Aku mohon...rahasiakan hal ini dari SooMi...”, kata-kata YoSeob membuat semua orang keheranan termasuk aku.
“Wae??”, YeonMi bertanya.
“Aku...”, YoSeob tertunduk, “Karena...aku sangat membencinya! Sangat benci sampai-sampai tak mau ia muncul di hadapanku lagi ketika pertemuan terakhir kita nanti! Aku harap hanya dia yang tidak tahu apa-apa soal kepergianku ini!”
Praaak!
Semua orang langsung menoleh kea rah pintu kelas dan mendapati aku tercengang dengan minuman yang tercecer di bawahku.
“SooMi a...”, YeonMi refleks berdiri melihatku.
“Soo.....Mi...”, YoSeob tampak tak mampu berkata-kata, tercengang melihatku.
“Jahat...”, tanpa kusadari air mataku mengalir ke pipiku, “Kenapa cuma aku..? Kenapa cuma aku?!”
“SooMi a...”, YoSeob mendekatiku, mencoba menenangkanku, “Deurobwa... Nan...”
“Sirheo!!”, aku menepis tangannya, “Apa salahku sampai kau begitu membencimu?? Aku benar-benar tak habis pikir... Padahal.. Aku begitu menyukaimu! Tapi kau...”
Sepertinya tanpa kusadari aku sudah membeberkan perasaanku pada semua orang dan tampak terlihat reaksi YoSeob yang tercengang berlebihan setelah mendengar pernyataanku.
Aku tak peduli lagi pada reaksinya, aku tak peduli lagi pada reaksi siapa pun, aku tak peduli lagi pada apa pun. Aku segera berlari keluar sambil menangis.
“SooMi a!!”, YeonMi mengejarku.
Sakit... Sakit sekali rasanya, mendengar kata ‘benci’ dari orang yang paling kita sukai... YoSeob a...
____________________________________________________________________
Sepanjang perjalanan aku terus diam, merenung, apa salahku...
“SooMi a... sudahlah...”, YeonMi menepuk pundakku.
“YeonMi a... mau menemaniku potong rambut?”
“Mwo? Jigeum?”
“Ne...”, aku tersenyum sedih, “Sekarang aku mengerti kenapa orang patah hati biasanya memotong rambut. Aku ingin menghilangkan bebanku. Aku harus melupakan YoSeob.”
YeonMi menatapku simpatik...
____________________________________________________________________
Aku masih terus merenung sepanjang jalan sehingga tanpa kusadari YeonMi sudah di seberang jalan menungguku.
“SooMi a...! Kau sedang apa?? Bbali! Nanti salonnya penuh!”, YeonMi melambai kepadaku.
“Ne!”, aku segera berlari menghampiri SooMi dan tanpa kusadari lampu merah sudah memperingatiku.
Tiiiiiiinnn! Kudengar klakson mobil dari sebelahku. Aku terkejut, terdiam di tempat ketika melihat sebuah mobil sedang melaju cepat ke arahku.
“SooMi!! Awas!!!”
____________________________________________________________________
Aku sudah menutup mata dan tidak tahu lagi apa yang terjadi, dan ketika kubuka mata...
Aku melihat wajah YoSeob dekat sekali denganku... Omo.. Apa aku sudah di surga...?
“SooMi a?? Neo Gwenchana??”, kudengar suara YeonMi yang berlari mendekatiku, berarti aku masih hidup.
Jamkan! Kalau aku masih hidup...berarti yang di depanku ini...
Aku segera mendorong YoSeob dan YoSeob juga segera melepaskan tangannya dari tubuhku.
Aku berdiri membelakangi YoSeob, menghadap YeonMi yang mengkhawatirkanku, sambil menepuk-nepuk tubuhku, “Nan Gwenchana.”, aku tersenyum pada YeonMi.
“Jinca?? Syukurlah.. Untung YoSeob datang tepat waktu menolongmu.”
Mataku melototi YeonMi.
“Waeyo?”, YeonMi tampak bingung melihat reaksiku, “Tadi YoSeob memelukmu dan menyingkirkanmu dari mobil gila itu, kau tahu?”
“Lain kali hati-hati!”, YoSeob memperingatkanku, padahal ini semua juga gara-gara dia.
Aku diam saja tidak mengindahkan kata-kata YoSeob.
“Ayo, SooMi! Nanti salonnya keburu ramai!”, YeonMi menarik tanganku.
“Kau mau potong rambut ya?”, kata-kata YoSeob menghentikan langkah kami, “Sayang sekali... Padahal aku lebih suka perempuan berambut panjang.”
Aku tersenyum senis pada YoSeob, “Kalau begitu aku akan memotong rambutku lebih pendek dan lebih pendek lagi agar kau lebih membenciku!”, aku menarik tangan YeonMi ,”Ayo YeonMi”. YeonMi tampak bingung menatapku dan YoSeob bergantian.
YoSeob masih di ujung jalan menatapku yang berjalan memasuki salon.
____________________________________________________________________
Dear diary…
Entah kenapa, hari ini tiba-tiba kenangan itu mulai terlintas di kepalaku..
Kenangan indah saat itu….
~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~
Acara perpisahan kelas kami tinggal beberapa minggu lagi dan kelas kami belum menyiapkan apa-apa. Untunglah sekarang sedang diadakan pertemuan di kelas ini untuk membicarakan acara apa yang akan dipentaskan saat perpisahan nanti.
“HEI!!!”, YeonMi menggebrak meja 3 kali, “Dengarkan aku! Kalau kalian terus rebut seperti itu, kita tidak akan bias menentukan acaranya!!”
Tapi sepertinya percuma, tidak ada yang mendengarkan YeonMi. Semua sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Ada yang menggosipkan model di majalah, memoles kuku, yang pria tertawa keras-keras, kejar-kejaran. Pokoknya kacau!
YeonMi kelihatan lelah dan menghela nafas kencang-kencang. Aku tersenyum melihatnya dan memberi semangat untuknya.
“Hwaiting”, bisikku. Ia pun tersenyum melihatku.
Brak! YeonMi lagi-lagi menggebrak meja, kali ini sangat keras sehingga teman-teman mampu menghentikan kegiatannya dan mengalihkan pandangannya ke YeonMi.
“Karena kalian tidak ada yang menghargaiku, jadi aku yang memutuskan! Kita akan mementaskan drama Putri Salju! Skenario akan kutulis! Pemerannya pun sudah kutentukan!”, YeonMi menulis di papan tulis dengan cepat.
“Selesai!”, YeonMi menepuk-nepuk tangannya, membersihkannya dari sisa-sisa kapur, lalu membalikkan tubuhnya menghadap kami.
Berbagai ekspresi yang berbeda menghiasi wajah kami. Ada yang berekspresi ‘syukurlah..’, ada yang berekspresi ‘yah..boleh lah..’, ada yang berekspresi ‘untung peran kecil..’, dan ada yang berekspresi ‘apa-apaan ini?!’, termasuk aku!
Snow White: Im SooMi
Prince: Yang YoSeob
Witch: Jung Krystal
Hunter: Son DongWoon
7 Dwarves: *your imagination.. lol*
Aku ternganga melihat daftar pemain itu. YeonMi tampak tersenyum jahil melihat wajah bingungku. Selesai asik dengan dunia bingungku, aku menoleh ke YeonMi dan tyersenyum melihatnya, “YeonMi, kau sengaja ya..”, kataku dalam hati.
YeonMi tersenyum mengangguk melihatku, seakan mengerti maksudku. Aku melirik ke arah tempat duduk YoSeob, melihat ia yang sedang menggerutu, “Apa-apaan ini..!”. Aku menghela nafasku, menunduk kecewa.
Ya, aku memang sudah lama menyukai Yoseob. Tapi ia tidak pernah tahu, dan entah kenapa aku selalu merasa sifatnya dingin terhadapku. Hhh.. YoSeob a.. Apakah dia membenciku? Andai kau tahu perasaanku..
____________________________________________________________________
Tak terasa hari pementasan pun tiba. Aku merasa begitu gugup ketika di belakang panggung. YeonMi ada di tempat sound system karena ia bertindak sebagai narrator. Aku melihat sekeliling dan semua pemain sibuk dengan dirinya masing-masing. Omo... Siapapun..tenangkan aku...
Pluk. Aku merasakan ada yang menyentuh punggungku. Aku menoleh ke belakang dan mendapatkan senyum hangat DongWoon sedang mengarah kepadaku.
“Jangan takut.. Kau pasti bisa..”, DongWoon tersenyum lagi.
“Ah.. Ne..”, entah kenapa hatiku mulai tenang sekarang.
Suara YeonMi mulai terdengar.. Omo.. Sebentar lagi aku tampil!
“Masuklah!”, DongWoon mendorong punggungku, “Sudah giliranmu. Hwaiting!”
“Ne..”, giliran aku yang tersenyum padanya.
Tanpa kusadari.. Ada sepasang mata yang menatapku sebal. Perasaanku mendadak jadi tidak enak. Kuabaikan saja itu.
___________________________________________________________________
Saat memasuki backstage, kakiku tersangkut gaunku, dan aaw!
Bruuuk!
Aku masih menutup mataku, apa aku jatuh??
Lagi-lagi senyum itu yang kulihat saat membuka mataku. DongWoon... Ia menangkapku di lengannya yang kuat.
“Lain kali hati-hati ya..”, katanya dalam senyum ramahnya.
“Ne..”, aku sampai gugup.
Ia melepaskan tubuhku dan berjalan maju ke panggung.
Hooh.. aku menghela nafas dan berjalan pelan menuju kursi untuk beristirahat sebentar sebelum giliranku tiba.
Tapi tiba-tiba Krystal mendatangiku dan mendorong bahuku tapi syukurlah kekuatannya belum bisa membuatku terjatuh.
“Ya!!”, aku sedikit berteriak.
“Kau sengaja kan?”, Krystal tidak mau kalah.
“M..Mwo??”, aku tidak mengerti apa maksudnya.
Dia mendorongku lagi, “Kau tadi sengaja menjatuhkan tubuhnu kan ke DongWoon? Kau tahu kan DongWoon di depanmu akan menangkapmu! Kau sengaja kan?!”
“Ya! Kau salah paham! Tadi aku tersandung dan kebetulan saja ada DongWoon di depanku. Ara?!”
“Aah! Kau tidak usah berpura-pura! Kau pasti...”
“Hentikan! Ada apa ini!”, tiba-tiba ada suara dari belakangku dan Krystal seketika menghentikan ocehannya.
Aku menoleh dan terkejut. YoSeob??
“SooMi a.. Sudah hamper giliranmu, sebaiknya kau bersiap di dekat panggung.”, YoSeob memperingatkanku.
“N..Ne...”, aku melangkah pelang menuku panggung. Setengah jalan aku menoleh ke belakang, melihat Krystal yang masih menggerutu dan marah-marah dan YoSeob yang menenangkannya dengan menepuk kepalanya.
Aku meninggalkan pandangan sedihku dan masuk ke panggung.
____________________________________________________________________
Tibalah saat adegan yang kutunggu-tunggu. Saat sang pangeran membangunkanku dari tidurnya. Saat latihan YoSeob berkata dia tidak mau melakukan adegan itu, tunggu saat pentas saja katanya. Karena itulah...sekarang...
Aku terbaring dengan mata terpejam di atas peti-petian yang disiapkan teman-teman. Sedikit tidak nyaman di sini. Tap. Deg! Jantungku berhenti sedetik mendengar suara langkah berat yang melangkah ke arahku. Tap tap tap. Semakin dekat, semakin cepat detak jantungku. Tap. Ia berhenti!
Perlahan tercium wangi sabun pada bajunya, terasa nafas beratnya di wajahku. Ya Tuhan... Apakah aku sedang bermimpi.
Chuu~ Kurasakan kecupan kecil di pipiku. Pelan-pelan, terdengar suara tepukan tangan. Aku pun membuka mataku.
“Bbali ireona!”, bisik YoSeob.
“Aah.. Ne..”, aku bangun, duduk di petiku.
Teman-temanku yang berperan sebagai tujuh kurcaci bersorak mengelilingiku dan tulisan ‘END’ pun muncul di atas panggung. Tepukan semakin meriah dan aku berdiri melihat, bergandengan bersama pemain lain dan memberi hormat pada penonton.
Aku memegang pipiku dan mengingat kecupan tadi sekali lagi. Dilihat dari sudut penonton memang tidak masalah.. Tapi.. aku sedikit kecewa...
____________________________________________________________________
Pentas pun selesai. Kami sekelas berkumpul di kelas, berkeliling untuk bergiliran memberitahu rencana kami masing-masing setelah lulus nanti. Ada yang ingin bekerja, ada yang belum tahu, ada yang melanjutkan di perguruan tinggi, ada yang ke luar negeri, dll. Semua sudah mempunyai rencana masing-masing. Aku sendiri ingin melanjutkan ke universitas Kyung Hee bersama YeonMi.
Hampir tiba giliran YoSeob yang berbicara, inilah yang kutunggu-tunggu. Aku tidak pernah tahu akan kemana YoSeob setelah kami semua berpisah nanti. YoSeob tidak banyak bercerita tentang hal ini kepada teman-temannya.
“SooMi a... bisa aku minta tolong untuk belikan aku minum?”
Aku tercengang sebentar. YoSeob? Meminta tolong padaku? Mana mungkin aku menolak! Tapi... sebentar lagi gilirannya bicara... Sudahlah. Aku bisa Tanya YeonMi nanti.
“Tentu!”, aku tersenyum menerima uang dari YoSeob lalu segera berlari ke arah membeli minum untuk YoSeob.
____________________________________________________________________
Aku berlari sambil berhati-hati membawakan minuman YoSeob. Setibanya di depan kelas, aku berhenti sebentar untuk mengistirahatkan nafasku. Samar-samar terdengar suara YoSeob dari kelas.
“Untunglah aku belum terlambat”, pikirku. Tanpa ragu kulangkahkan kakiku ke dalam kelas.
“Setelah ini aku akan pergi ke Perancis, melanjutkan sekolah sekaligus bekerja dengan ayah di sana..”
Langkahku terhenti seketika.
“Kau... akan kembali ke sini lagi kan?”, Krystal bertanya.
“Molla...”, YoSeob terdiam sejenak, “Geundae...sepertinya tidak... Aku tinggal dengan ayahku di sana”
Jantungku seperti berhenti berdegup.
“Aku mohon...rahasiakan hal ini dari SooMi...”, kata-kata YoSeob membuat semua orang keheranan termasuk aku.
“Wae??”, YeonMi bertanya.
“Aku...”, YoSeob tertunduk, “Karena...aku sangat membencinya! Sangat benci sampai-sampai tak mau ia muncul di hadapanku lagi ketika pertemuan terakhir kita nanti! Aku harap hanya dia yang tidak tahu apa-apa soal kepergianku ini!”
Praaak!
Semua orang langsung menoleh kea rah pintu kelas dan mendapati aku tercengang dengan minuman yang tercecer di bawahku.
“SooMi a...”, YeonMi refleks berdiri melihatku.
“Soo.....Mi...”, YoSeob tampak tak mampu berkata-kata, tercengang melihatku.
“Jahat...”, tanpa kusadari air mataku mengalir ke pipiku, “Kenapa cuma aku..? Kenapa cuma aku?!”
“SooMi a...”, YoSeob mendekatiku, mencoba menenangkanku, “Deurobwa... Nan...”
“Sirheo!!”, aku menepis tangannya, “Apa salahku sampai kau begitu membencimu?? Aku benar-benar tak habis pikir... Padahal.. Aku begitu menyukaimu! Tapi kau...”
Sepertinya tanpa kusadari aku sudah membeberkan perasaanku pada semua orang dan tampak terlihat reaksi YoSeob yang tercengang berlebihan setelah mendengar pernyataanku.
Aku tak peduli lagi pada reaksinya, aku tak peduli lagi pada reaksi siapa pun, aku tak peduli lagi pada apa pun. Aku segera berlari keluar sambil menangis.
“SooMi a!!”, YeonMi mengejarku.
Sakit... Sakit sekali rasanya, mendengar kata ‘benci’ dari orang yang paling kita sukai... YoSeob a...
____________________________________________________________________
Sepanjang perjalanan aku terus diam, merenung, apa salahku...
“SooMi a... sudahlah...”, YeonMi menepuk pundakku.
“YeonMi a... mau menemaniku potong rambut?”
“Mwo? Jigeum?”
“Ne...”, aku tersenyum sedih, “Sekarang aku mengerti kenapa orang patah hati biasanya memotong rambut. Aku ingin menghilangkan bebanku. Aku harus melupakan YoSeob.”
YeonMi menatapku simpatik...
____________________________________________________________________
Aku masih terus merenung sepanjang jalan sehingga tanpa kusadari YeonMi sudah di seberang jalan menungguku.
“SooMi a...! Kau sedang apa?? Bbali! Nanti salonnya penuh!”, YeonMi melambai kepadaku.
“Ne!”, aku segera berlari menghampiri SooMi dan tanpa kusadari lampu merah sudah memperingatiku.
Tiiiiiiinnn! Kudengar klakson mobil dari sebelahku. Aku terkejut, terdiam di tempat ketika melihat sebuah mobil sedang melaju cepat ke arahku.
“SooMi!! Awas!!!”
____________________________________________________________________
Aku sudah menutup mata dan tidak tahu lagi apa yang terjadi, dan ketika kubuka mata...
Aku melihat wajah YoSeob dekat sekali denganku... Omo.. Apa aku sudah di surga...?
“SooMi a?? Neo Gwenchana??”, kudengar suara YeonMi yang berlari mendekatiku, berarti aku masih hidup.
Jamkan! Kalau aku masih hidup...berarti yang di depanku ini...
Aku segera mendorong YoSeob dan YoSeob juga segera melepaskan tangannya dari tubuhku.
Aku berdiri membelakangi YoSeob, menghadap YeonMi yang mengkhawatirkanku, sambil menepuk-nepuk tubuhku, “Nan Gwenchana.”, aku tersenyum pada YeonMi.
“Jinca?? Syukurlah.. Untung YoSeob datang tepat waktu menolongmu.”
Mataku melototi YeonMi.
“Waeyo?”, YeonMi tampak bingung melihat reaksiku, “Tadi YoSeob memelukmu dan menyingkirkanmu dari mobil gila itu, kau tahu?”
“Lain kali hati-hati!”, YoSeob memperingatkanku, padahal ini semua juga gara-gara dia.
Aku diam saja tidak mengindahkan kata-kata YoSeob.
“Ayo, SooMi! Nanti salonnya keburu ramai!”, YeonMi menarik tanganku.
“Kau mau potong rambut ya?”, kata-kata YoSeob menghentikan langkah kami, “Sayang sekali... Padahal aku lebih suka perempuan berambut panjang.”
Aku tersenyum senis pada YoSeob, “Kalau begitu aku akan memotong rambutku lebih pendek dan lebih pendek lagi agar kau lebih membenciku!”, aku menarik tangan YeonMi ,”Ayo YeonMi”. YeonMi tampak bingung menatapku dan YoSeob bergantian.
YoSeob masih di ujung jalan menatapku yang berjalan memasuki salon.
____________________________________________________________________
“Selamat datang..”, petugas salon menyambut kami dengan ramah, “Ada yang bisa kami bantu?”
Aku tersenyum, “Rapikan saja rambutku.”
Yeonmi tampak terkejut menatapku, “Mwoyeyo? Kau tidak jadi potong pendek rambutmu?”
“Dipikir-pikir saying juga, lagipula dari dulu kan aku memang mau memanjangkan rambutku..”
YeonMi tampak tersenyum-senyum jahil melihatku.
Hhh...baiklah.. Aku kalah.. Aku belum bisa melupakan YoSeob.
_______________________________________________________________________________
“Jalja SooMi a.. Jangan sedih lagi ya?”, YeonMi melambaikan tangannya padaku ketika kami akan berpisah jalan.
“Ne.. Gomawo YeonMi a.. Jalja.. Joshimhae..”
Aku berjalan menyusuri jalan menuju rumahku. Rasanya lelah sekali hari ini. Aku ingin tidur begitu sampai rumah.
“SooMi a!”
Aku menoleh ke belakang kea rah suara yang memanggilku.
“DongWoon?”
DongWoon berlari kecil ke arahku dan berhenti sebentar mengatur nafasnya, ia tersenyum, “Mau menemaniku main sepak bola? Aku mau melatih skillku.”
Mwo? Tapi aku ingin tidur.. Tapi...
____________________________________________________________________
Dash! Tampak Dongwoon antusias sekali menendang bola ke gawang, padahal tidak ada lawannya di sini. Hanya ada aku yang menontonnya latihan. Hoahm. Sedang apa aku di sini ya? Membosankan. Aku ingin tidur. Tapi...
Aku sulit menolak permintaan orang. Hhh... Tidak apalah. Lagipula katanya hanya sebentar.
“Eottokke??”, DongWoon duduk di sebelahku, “Permainanku meningkat tidak?”
“Ne..”, aku tersenyum memberikan botol minum dan handuknya.
Dongwoon berdiri dan menyiram kepalanya dengan air dingin lalu melapnya dengan handuk, lalu ia duduk kembali.
“YeonMi a...”, ia memanggilku tapi tidak melihatku, ia menatap langit, “Sudah berapa lama kau menyukai YoSeob?”
“Aa.. aku...”, aku menunduk,” Dia cinta pertamaku. Aku menyukainya sejak masuk SMA. Tapi dia...”, tiba-tiba ingatan tadi siang terlintas lagi di kepalaku, mataku kembali berkaca-kaca.
Dongwoon menatapku lekat-lekat, lalu memegang tanganku, “Lupakan dia... Jadilah pacarku...”
Aku berkedip menatap DongWoon tak percaya.
_______________________________________________________________________________
“Haissss!! Apa yang kulakukan sih!!”, aku mengacak-ngacak rambutku di depan kaca di meja riasku, “Jeongmal baboyo!!”, aku mengetuk kepalaku sendiri.
“SooMi a...”, aku berbicara pada diriku di depan kaca, “DongWoon itu orang yang disukai Krystal. Kau jelas-jelas tahu itu! Haiissss!! Eotteokke!!”
Tiba-tiba handphoneku berdering, dengan sigap aku mengangkat handphoneku, “Yoboseyo?”
“Yoboseyo? SooMi a...”, terdengar suara DongWoon dari seberang sana.
“Aah.. DongWoon a..”, suaraku terdengar gugup.
“Ingat kan hari ini teman kita, GiKwang ulang tahun? Ia mengundang kita semua. Kau ikut yah? Nanti kujemput. Siap-siap sekarang ya?”
“Ah ne...”, aku menutup handphoneku... Hhh... Mungkin aku harus mencoba menerima DongWoon dan melupakan YoSeob. Dicintai memang lebih baik daripada mencintai.
DongWoon menurunkanku dari mobilnya setelah tiba di rumah GiKwang. GiKwang menyambut kami dengan ramah.
“Ya! DongWoon a! Kau datang dengan SooMi? Jangan-jangan kalian...”, GiKwang menatap jahil pada kami.
Dongwoon tersenyum, “Ne!”, ia merangkulku, “Dia pacarku.”
“Mwo?”, GiKwang tampak terkejut sejenak, “Hei SooMi a.. Bukannya tadi pagi kau baru bilang kalau kau menyuka...”
DongWoon merangkul leher GiKwang sambil tertawa jahil, ”Ya! KAu tidak suka ya kami berpacaran?”
“Aa..ani.. lepaskan, DongWoon a! Sakit! Ampun! Hahaha”, GiKwang meminta ampun.
DongWoon melepasnya lalu menepuk bahunya, “Haha. Kau ini. Saengil chukkaeyo, GiKwang a!”
“Ne.. Gomawo..”, GiKwang tersenyum.
“SooMi a...!”, YeonMi menghampiriku, “Kau datang dengan DongWoon?”
“Ne? Kau sendiri?”
“Changmin oppa mengantarku ^^. Ayo kita ke sana!”, YeonMi menarik tanganku masuk ke dalam. Aku menatap DongWoon, DongWoon mengangguk dan menyuruhku bersenang-senang dengan teman-temanku.
____________________________________________________________________
“SooMi a! Aku ingin bicara!”, tiba-tiba Krystal menarik tanganku.
“K..Krystal...”, aku mulai mengerti mau kemana arah pembicaraan Krystal.
Plak! Krystal menamparku. Aku hanya bisa memegang pipiku dan menunduk. Tanpa sadar air mataku mengalir lagi, “Mian...”
Kali ini Krystal pun menangis, “Kau tahu selama ini aku menyukai DongWoon kan? Kau jahat! Kenapa kau pacaran dengannya?”
Air mataku terus mengalir, “Mianhae.. Jeongmal mianhae.. Krystal...”
“Aku tidak mau melihatku lagi! Kau jahat!”, Krystal pergi meninggalkanku yang menangis sendirian.
Aku terus menangis. Menangisi diriku yang benar-benar bodoh, jahat.. Pantas YoSeob membenciku. Tak sepantasnya aku disukai DongWoon. Jelas-jelas aku tahu kalau temanku sendiri menyukai DongWoon...tapi aku...
“SooMi? Kau kenapa?”, tiba-tiba terdengar suara YoSeob dari belakangku.
“Tidak ada urusannya denganmu!”, aku berlari meninggalkan YoSeob tanpa menoleh ke YoSeob.
“DongWoon, aku ingin pulang!”, aku menarik tangan DongWoon.
“SooMi? Tapi pesta belum selesai.”
“Aku ingin pulang...”, aku menatap DongWoon dengan mataku yang basah.
“SooMi? Kau kenapa? Oke, oke. Kita pulang ke rumahmu.”
“Aku tak mau pulang ke rumahku. Orang rumahku pasti bertanya-tanya aku kenapa. Aku menginap di rumahmu ya?”
“Di rumahku? Tapi orang tuamu...?”
“Orang tuaku pasti mengizinkan dan mengira aku menginap di rumah YeonMi. Nanti aku baru hubungi YeonMi lagi. Yang penting sekarang aku mau pulang!”
“Ne, Ne.. Kaja!”, DongWoon menggandeng tanganku menuju ke mobilnya.
____________________________________________________________________
“Kau tidur di kamarku ya? Aku tidur di kamar orang tuaku. Kebetulan orang tuaku sedang di luar kota.”, DongWoon membukakakn pintu kamarnya untukku.
“Ne...”, aku masuk ke kamar DongWoon dengan langkah gontai.
“Igo! Pakai baju ummaku saja.”, DongWoon memberikan baju ummanya kepadaku dan aku menerimanya dengan lemas.
Ia menepuk kepalaku dan tersenyum, “Jangan pikirkan apa-apa lagi. Istirahatlah. Biar aku yang menelepon YeonMi nanti.”
Aku mengangguk dan ia menutup pintu kamar meninggalkanku.
DongWoon... Ia benar-benar baik. Tak seharusnya aku memikirkan YoSeob lagi... Hajiman...
Aku masih belum bisa melupakannya... YoSeob a...
____________________________________________________________________
Eenghh.. Aku terbangun..dan melihat ke arah jam dinding di kamar DongWoon.. Masih jam 1 pagi.. Aku melihat cahaya di luar kamar. dongWoon masih belum tidur? Aku bangun menapakkan kakiku dan mengintip ke luar kamar. Aku melihat dongwoon yang sedang berbicara di telepon.
“Mwo? Besok?? Kenapa secepat itu?..... Geundae.. SooMi...”
Aku sedikit terkejut mendengar namak sehingga tidak sengaja membuat suara pintu terdengar oleh Dongwoon. Dongwoon menoleh ke arahku dan terlihat panik, “Nanti kuhubungi lagi..”. Krek! Dongwoon menutup teleponnya dan menghampiriku.
“SooMi a.. terbangun ya?”
Aku mengangguk, “Yang tadi itu siapa?”
“Ani... Teman lamaku. Dia mengajak mengobrol sebentar.. Tidur lagi sana..”, DongWoon tersenyum dan menepuk kepalaku.
Aku mengangguk lagi dan masuk ke kamar DongWoon. Teman lama? Tadi sepertinya ia menyebutkan namaku. Apa aku salah dengar?
____________________________________________________________________
Matahari pagi membangunkan mataku. Aku terbangun perlahan, keluar kamar, dan mendapati DongWoon yang sedang duduk diam di sofa. Dahinya mengkerut seperti sedang memikirkan sesuatu.
Aku menghampirinya, “DongWoon a.. Wae geurae?”
Ia tampak sedikit terkejut, “Ah.. Ani.. Sudah jam segini. Kau mandi dulu saja baru kuantar pulang nanti. Baju dan handuk sudah kusiapkan di kamarku.”
“Ah.. Ne...”, aku berjalan ke kamar Dongwoon sambil menatap Dongwoon heran.
“SooMi a...”, DongWoon memanggilku.
“Ne?”, aku membalikkan badanku.
“Aah.. A..amudo aniya.. Kau cepatlah mandi..”, ia membatalkan yang akan dibicarakannya.
“DongWoon?”, aku menatapnya heran, “Kau menyembunyikan sesuatu?”
“A..Ani..”, DongWoon tersenyum, senyumnya kelihatan aneh hari ini.
“Baiklah.. Kalau begitu aku mandi dulu..”
_______________________________________________________________________________
Selesai mandi, aku masih melihat DongWoon yang terduduk diam di sofa. Meremas-remas tangannya, seperti panik akan sesuatu.
Aku menghampiri Dongwoon dan duduk di sebelahnya, “DongWoon a? Wae Geuraeyo? Neo Gwenchana?”
DongWoon tampak terkejut akan kehadiranku di sampingnya, “Ah.. Nan gwenchana..”
“Kau...benar-benar tidak sedang menyembunyikan sesuatu dariku kan?”, aku menyipitkan mataku seperti sedang menelitinya.
Dia menggeleng pelan.
Aku tersenyum, “Baguslah kalau begitu..”, aku bangun dari dudukku, “Aku rapikan baju-bajuku dulu ya”, aku berjalan ke arah kamar DongWoon.
“SooMi a!”, panggilan DongWoon menghentikan langkahku.
“Ne?”, aku menolehkan tubuhku menatapnya.
“Kemarin...yang meneleponku adalah YoSeob...”, mendengar nama itu, aku mematung seketika, “Dia bilang...pesawatnya akan berangkat siang ini...”
Aku lemas...tidak tahu lagi apa yang ada di pikiranku... Tidak tahu lagi perasaan apa yang ada di hatiku. Lagi-lagi, tanpa kusadari, air mataku mengalir lagi.
“Lalu dia bilang apa? Menyuruhmu merahasiakan lagi? Meminta teman sekelas mengantarnya kecuali aku, sehingga hanya tersisa aku yang tidak tahu apa-apa tentang kepergiannya? Begitu??”
“Dia tidak bicara banyak...”, DongWoon menatapku lekat-lekat, “Ia hanya minta aku untuk menjagamu...”
Mataku benar-benar buram karena air mata sekarang.
“Aku akan mengantarmu ke bandara untuk menemuinya.”, DongWoon menarik tanganku, “Kkaja!”
“Sirheo!”, aku melepaskan tangan DongWoon dan menghentakkan tubuhku ke kursi, “Nan Sirheo! Dia mau aku tidak tahu apa-apa kan? Dia tidak mau bertemu denganku lagi kan, bahkan sampai di bandara nanti kan? Joha! Kuturuti keinginannya! Aku Tidak Mau Pergi!”
“SooMi a...”
“Aku tidak mau dengar lagi!!”, aku menutup kedua telingaku sambil menangis, “Jangan bicara apa-apa lagi... Jebal... DongWoon a...”
“SooMi...”, Dongwoon duduk di sebelahku, memelukku, meminjamkan dadanya untuk menjadi tempatku menangis.
____________________________________________________________________
Tik tik tik. Jarum detik terus mengusikku yang sedari tadi masih duduk diam di rumah Dongwoon. DongWoon menemaniku diam di sebelahku. Aku menatap jam dinding. Sudah hamper tengah hari, keberangkatan YoSeob sebentar lagi...
Aku tergerak bangun tiba-tiba dari sofa, “DongWoon a! antarkan aku ke bandara”
____________________________________________________________________
Sepanjang perjalanan aku terus menangis..
“DongWoon a... Kenapa YoSeob begitu membenciku...?”
“Ia tidak membencimu...”, DongWoon menghela nafas, “Ia menyukaimu...”
“Mwo??”, aku menatap DongWoon tidak percaya.
“Ia tidak ingin kau mengantarnya, ia takut tak bisa melepasmu... Ia takut tak bisa pergi ke Perancis karenamu... Ia...”
“Geumanhae!”, aku menangis bertambah kencang, “Aku tidak sanggup mendengarnya...”, aku terus menangis, “Ia pergi dan tak akan kembali lagi... YoSeob a...”
Tangisanku terus mengiringi perjalananku menuju bandara.
____________________________________________________________________
Kakiku terus berlari di bandara, mencari kehadiran YoSeob yang akan membuat kakiku berhenti. YoSeob a.. Neo oddiyo...
“SooMi a...!”, terdengar suara YeonMi memanggilku.
“YeonMi?”, aku menoleh, “Mana YoSeob?”
“YoSeob...dia...”
____________________________________________________________________
Mataku menatap pesawat terbang yang lepas landas meninggalkan lapangan terbang. Aku terduduk di sana. Meratapi kepergian YoSeob.
“YoSeob a... kembali... YoSeob a...”
“SooMi a...”, YeonMi menghiburku.
“SooMi...”
Aku terdiam seketika mendengar suara itu. Perlahan kutolehkan kepalaku ke arah suara itu, dan aku terkejut melihat siapa yang berdiri di depanku.
“YoSeob...”
“SooMi...aku...”
Aku sudah tidak peduli dengan apa pun, aku berleri memeluk Yoseob.
“Kau jahat!”, aku menangis di pelukan YoSeob, “Kenapa kau tidak memberitahuku dari dulu? Kenapa kau bilang kau membenciku? Kau...”
“Mianhae...dulu aku mengira kau menyukai DongWoon.. aku menutupi perasaanku.. Jadi aku...”, YoSeob membalas pelukanku, “Mianhae...”
Kami melepas pelukan kami dan saling menatap.
“Mengapa kau belum pergi?”, aku menatap tiket pesawat di tangannya.
“Aku menunda kepergianku, karena ada yang belum kulakukan di Korea”, YoSeob tersenyum, “Saranghae...”, pelan, ia mencium bibirku.
Setelah beberapa saat, ia melepaskan bibirnya dariku dan membelai rambutku, “Aku suka rambutmu..”, YoSeob tersenyum, “Aku pasti akan pulang. Percayalah dan tunggu aku di sini.”
“Ne!”, aku tersenyum dan memeluknya kembali.
Kali ini, aku menatap kepergian pesawat YoSeob sambil tersenyum.
YoSeob a... Nan Gidarilkeyo...
~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*
Aku menutup buku harianku dan tersenyum. Aku melihat jam dindingku. Sudah jam 7. Aku harus bersiap-siap.
Kulajukan mobilku di jalan raya dan berhenti sebentar di lampu merah. Di seberang jalan kulihat orang yang sepertinya kukenal. Itu... Dongwoon dan Krystal... Aku tersenyum.. syukurlah mereka mendapatkan yang terbaik satu sama lain.
Mobilku berhenti di tempat tujuanku. Aku memarkirnya perlahan di tempat parkiran.
Aku masuk ke bandara, mencari sosok yang sudah kurindukan selama 5 tahun. YoSeob a...
Dan mataku terhenti pada seorang laki-laki berkacamata hitam yang sedang mendorong koper dan membawa bawaannya. Lelaki itu pun menatapku, lalu tersenyum sambil membuka kacamata hitamnya.
“Aku pulang...”
Aku tersenyum lebar, dan langsung berlari memeluknya.
“Selamat datang kembali... YoSeob...”
THE END
Aku tersenyum, “Rapikan saja rambutku.”
Yeonmi tampak terkejut menatapku, “Mwoyeyo? Kau tidak jadi potong pendek rambutmu?”
“Dipikir-pikir saying juga, lagipula dari dulu kan aku memang mau memanjangkan rambutku..”
YeonMi tampak tersenyum-senyum jahil melihatku.
Hhh...baiklah.. Aku kalah.. Aku belum bisa melupakan YoSeob.
__________________________
“Jalja SooMi a.. Jangan sedih lagi ya?”, YeonMi melambaikan tangannya padaku ketika kami akan berpisah jalan.
“Ne.. Gomawo YeonMi a.. Jalja.. Joshimhae..”
Aku berjalan menyusuri jalan menuju rumahku. Rasanya lelah sekali hari ini. Aku ingin tidur begitu sampai rumah.
“SooMi a!”
Aku menoleh ke belakang kea rah suara yang memanggilku.
“DongWoon?”
DongWoon berlari kecil ke arahku dan berhenti sebentar mengatur nafasnya, ia tersenyum, “Mau menemaniku main sepak bola? Aku mau melatih skillku.”
Mwo? Tapi aku ingin tidur.. Tapi...
____________________________________________________________________
Dash! Tampak Dongwoon antusias sekali menendang bola ke gawang, padahal tidak ada lawannya di sini. Hanya ada aku yang menontonnya latihan. Hoahm. Sedang apa aku di sini ya? Membosankan. Aku ingin tidur. Tapi...
Aku sulit menolak permintaan orang. Hhh... Tidak apalah. Lagipula katanya hanya sebentar.
“Eottokke??”, DongWoon duduk di sebelahku, “Permainanku meningkat tidak?”
“Ne..”, aku tersenyum memberikan botol minum dan handuknya.
Dongwoon berdiri dan menyiram kepalanya dengan air dingin lalu melapnya dengan handuk, lalu ia duduk kembali.
“YeonMi a...”, ia memanggilku tapi tidak melihatku, ia menatap langit, “Sudah berapa lama kau menyukai YoSeob?”
“Aa.. aku...”, aku menunduk,” Dia cinta pertamaku. Aku menyukainya sejak masuk SMA. Tapi dia...”, tiba-tiba ingatan tadi siang terlintas lagi di kepalaku, mataku kembali berkaca-kaca.
Dongwoon menatapku lekat-lekat, lalu memegang tanganku, “Lupakan dia... Jadilah pacarku...”
Aku berkedip menatap DongWoon tak percaya.
__________________________
“Haissss!! Apa yang kulakukan sih!!”, aku mengacak-ngacak rambutku di depan kaca di meja riasku, “Jeongmal baboyo!!”, aku mengetuk kepalaku sendiri.
“SooMi a...”, aku berbicara pada diriku di depan kaca, “DongWoon itu orang yang disukai Krystal. Kau jelas-jelas tahu itu! Haiissss!! Eotteokke!!”
Tiba-tiba handphoneku berdering, dengan sigap aku mengangkat handphoneku, “Yoboseyo?”
“Yoboseyo? SooMi a...”, terdengar suara DongWoon dari seberang sana.
“Aah.. DongWoon a..”, suaraku terdengar gugup.
“Ingat kan hari ini teman kita, GiKwang ulang tahun? Ia mengundang kita semua. Kau ikut yah? Nanti kujemput. Siap-siap sekarang ya?”
“Ah ne...”, aku menutup handphoneku... Hhh... Mungkin aku harus mencoba menerima DongWoon dan melupakan YoSeob. Dicintai memang lebih baik daripada mencintai.
DongWoon menurunkanku dari mobilnya setelah tiba di rumah GiKwang. GiKwang menyambut kami dengan ramah.
“Ya! DongWoon a! Kau datang dengan SooMi? Jangan-jangan kalian...”, GiKwang menatap jahil pada kami.
Dongwoon tersenyum, “Ne!”, ia merangkulku, “Dia pacarku.”
“Mwo?”, GiKwang tampak terkejut sejenak, “Hei SooMi a.. Bukannya tadi pagi kau baru bilang kalau kau menyuka...”
DongWoon merangkul leher GiKwang sambil tertawa jahil, ”Ya! KAu tidak suka ya kami berpacaran?”
“Aa..ani.. lepaskan, DongWoon a! Sakit! Ampun! Hahaha”, GiKwang meminta ampun.
DongWoon melepasnya lalu menepuk bahunya, “Haha. Kau ini. Saengil chukkaeyo, GiKwang a!”
“Ne.. Gomawo..”, GiKwang tersenyum.
“SooMi a...!”, YeonMi menghampiriku, “Kau datang dengan DongWoon?”
“Ne? Kau sendiri?”
“Changmin oppa mengantarku ^^. Ayo kita ke sana!”, YeonMi menarik tanganku masuk ke dalam. Aku menatap DongWoon, DongWoon mengangguk dan menyuruhku bersenang-senang dengan teman-temanku.
____________________________________________________________________
“SooMi a! Aku ingin bicara!”, tiba-tiba Krystal menarik tanganku.
“K..Krystal...”, aku mulai mengerti mau kemana arah pembicaraan Krystal.
Plak! Krystal menamparku. Aku hanya bisa memegang pipiku dan menunduk. Tanpa sadar air mataku mengalir lagi, “Mian...”
Kali ini Krystal pun menangis, “Kau tahu selama ini aku menyukai DongWoon kan? Kau jahat! Kenapa kau pacaran dengannya?”
Air mataku terus mengalir, “Mianhae.. Jeongmal mianhae.. Krystal...”
“Aku tidak mau melihatku lagi! Kau jahat!”, Krystal pergi meninggalkanku yang menangis sendirian.
Aku terus menangis. Menangisi diriku yang benar-benar bodoh, jahat.. Pantas YoSeob membenciku. Tak sepantasnya aku disukai DongWoon. Jelas-jelas aku tahu kalau temanku sendiri menyukai DongWoon...tapi aku...
“SooMi? Kau kenapa?”, tiba-tiba terdengar suara YoSeob dari belakangku.
“Tidak ada urusannya denganmu!”, aku berlari meninggalkan YoSeob tanpa menoleh ke YoSeob.
“DongWoon, aku ingin pulang!”, aku menarik tangan DongWoon.
“SooMi? Tapi pesta belum selesai.”
“Aku ingin pulang...”, aku menatap DongWoon dengan mataku yang basah.
“SooMi? Kau kenapa? Oke, oke. Kita pulang ke rumahmu.”
“Aku tak mau pulang ke rumahku. Orang rumahku pasti bertanya-tanya aku kenapa. Aku menginap di rumahmu ya?”
“Di rumahku? Tapi orang tuamu...?”
“Orang tuaku pasti mengizinkan dan mengira aku menginap di rumah YeonMi. Nanti aku baru hubungi YeonMi lagi. Yang penting sekarang aku mau pulang!”
“Ne, Ne.. Kaja!”, DongWoon menggandeng tanganku menuju ke mobilnya.
____________________________________________________________________
“Kau tidur di kamarku ya? Aku tidur di kamar orang tuaku. Kebetulan orang tuaku sedang di luar kota.”, DongWoon membukakakn pintu kamarnya untukku.
“Ne...”, aku masuk ke kamar DongWoon dengan langkah gontai.
“Igo! Pakai baju ummaku saja.”, DongWoon memberikan baju ummanya kepadaku dan aku menerimanya dengan lemas.
Ia menepuk kepalaku dan tersenyum, “Jangan pikirkan apa-apa lagi. Istirahatlah. Biar aku yang menelepon YeonMi nanti.”
Aku mengangguk dan ia menutup pintu kamar meninggalkanku.
DongWoon... Ia benar-benar baik. Tak seharusnya aku memikirkan YoSeob lagi... Hajiman...
Aku masih belum bisa melupakannya... YoSeob a...
____________________________________________________________________
Eenghh.. Aku terbangun..dan melihat ke arah jam dinding di kamar DongWoon.. Masih jam 1 pagi.. Aku melihat cahaya di luar kamar. dongWoon masih belum tidur? Aku bangun menapakkan kakiku dan mengintip ke luar kamar. Aku melihat dongwoon yang sedang berbicara di telepon.
“Mwo? Besok?? Kenapa secepat itu?..... Geundae.. SooMi...”
Aku sedikit terkejut mendengar namak sehingga tidak sengaja membuat suara pintu terdengar oleh Dongwoon. Dongwoon menoleh ke arahku dan terlihat panik, “Nanti kuhubungi lagi..”. Krek! Dongwoon menutup teleponnya dan menghampiriku.
“SooMi a.. terbangun ya?”
Aku mengangguk, “Yang tadi itu siapa?”
“Ani... Teman lamaku. Dia mengajak mengobrol sebentar.. Tidur lagi sana..”, DongWoon tersenyum dan menepuk kepalaku.
Aku mengangguk lagi dan masuk ke kamar DongWoon. Teman lama? Tadi sepertinya ia menyebutkan namaku. Apa aku salah dengar?
____________________________________________________________________
Matahari pagi membangunkan mataku. Aku terbangun perlahan, keluar kamar, dan mendapati DongWoon yang sedang duduk diam di sofa. Dahinya mengkerut seperti sedang memikirkan sesuatu.
Aku menghampirinya, “DongWoon a.. Wae geurae?”
Ia tampak sedikit terkejut, “Ah.. Ani.. Sudah jam segini. Kau mandi dulu saja baru kuantar pulang nanti. Baju dan handuk sudah kusiapkan di kamarku.”
“Ah.. Ne...”, aku berjalan ke kamar Dongwoon sambil menatap Dongwoon heran.
“SooMi a...”, DongWoon memanggilku.
“Ne?”, aku membalikkan badanku.
“Aah.. A..amudo aniya.. Kau cepatlah mandi..”, ia membatalkan yang akan dibicarakannya.
“DongWoon?”, aku menatapnya heran, “Kau menyembunyikan sesuatu?”
“A..Ani..”, DongWoon tersenyum, senyumnya kelihatan aneh hari ini.
“Baiklah.. Kalau begitu aku mandi dulu..”
__________________________
Selesai mandi, aku masih melihat DongWoon yang terduduk diam di sofa. Meremas-remas tangannya, seperti panik akan sesuatu.
Aku menghampiri Dongwoon dan duduk di sebelahnya, “DongWoon a? Wae Geuraeyo? Neo Gwenchana?”
DongWoon tampak terkejut akan kehadiranku di sampingnya, “Ah.. Nan gwenchana..”
“Kau...benar-benar tidak sedang menyembunyikan sesuatu dariku kan?”, aku menyipitkan mataku seperti sedang menelitinya.
Dia menggeleng pelan.
Aku tersenyum, “Baguslah kalau begitu..”, aku bangun dari dudukku, “Aku rapikan baju-bajuku dulu ya”, aku berjalan ke arah kamar DongWoon.
“SooMi a!”, panggilan DongWoon menghentikan langkahku.
“Ne?”, aku menolehkan tubuhku menatapnya.
“Kemarin...yang meneleponku adalah YoSeob...”, mendengar nama itu, aku mematung seketika, “Dia bilang...pesawatnya akan berangkat siang ini...”
Aku lemas...tidak tahu lagi apa yang ada di pikiranku... Tidak tahu lagi perasaan apa yang ada di hatiku. Lagi-lagi, tanpa kusadari, air mataku mengalir lagi.
“Lalu dia bilang apa? Menyuruhmu merahasiakan lagi? Meminta teman sekelas mengantarnya kecuali aku, sehingga hanya tersisa aku yang tidak tahu apa-apa tentang kepergiannya? Begitu??”
“Dia tidak bicara banyak...”, DongWoon menatapku lekat-lekat, “Ia hanya minta aku untuk menjagamu...”
Mataku benar-benar buram karena air mata sekarang.
“Aku akan mengantarmu ke bandara untuk menemuinya.”, DongWoon menarik tanganku, “Kkaja!”
“Sirheo!”, aku melepaskan tangan DongWoon dan menghentakkan tubuhku ke kursi, “Nan Sirheo! Dia mau aku tidak tahu apa-apa kan? Dia tidak mau bertemu denganku lagi kan, bahkan sampai di bandara nanti kan? Joha! Kuturuti keinginannya! Aku Tidak Mau Pergi!”
“SooMi a...”
“Aku tidak mau dengar lagi!!”, aku menutup kedua telingaku sambil menangis, “Jangan bicara apa-apa lagi... Jebal... DongWoon a...”
“SooMi...”, Dongwoon duduk di sebelahku, memelukku, meminjamkan dadanya untuk menjadi tempatku menangis.
____________________________________________________________________
Tik tik tik. Jarum detik terus mengusikku yang sedari tadi masih duduk diam di rumah Dongwoon. DongWoon menemaniku diam di sebelahku. Aku menatap jam dinding. Sudah hamper tengah hari, keberangkatan YoSeob sebentar lagi...
Aku tergerak bangun tiba-tiba dari sofa, “DongWoon a! antarkan aku ke bandara”
____________________________________________________________________
Sepanjang perjalanan aku terus menangis..
“DongWoon a... Kenapa YoSeob begitu membenciku...?”
“Ia tidak membencimu...”, DongWoon menghela nafas, “Ia menyukaimu...”
“Mwo??”, aku menatap DongWoon tidak percaya.
“Ia tidak ingin kau mengantarnya, ia takut tak bisa melepasmu... Ia takut tak bisa pergi ke Perancis karenamu... Ia...”
“Geumanhae!”, aku menangis bertambah kencang, “Aku tidak sanggup mendengarnya...”, aku terus menangis, “Ia pergi dan tak akan kembali lagi... YoSeob a...”
Tangisanku terus mengiringi perjalananku menuju bandara.
____________________________________________________________________
Kakiku terus berlari di bandara, mencari kehadiran YoSeob yang akan membuat kakiku berhenti. YoSeob a.. Neo oddiyo...
“SooMi a...!”, terdengar suara YeonMi memanggilku.
“YeonMi?”, aku menoleh, “Mana YoSeob?”
“YoSeob...dia...”
____________________________________________________________________
Mataku menatap pesawat terbang yang lepas landas meninggalkan lapangan terbang. Aku terduduk di sana. Meratapi kepergian YoSeob.
“YoSeob a... kembali... YoSeob a...”
“SooMi a...”, YeonMi menghiburku.
“SooMi...”
Aku terdiam seketika mendengar suara itu. Perlahan kutolehkan kepalaku ke arah suara itu, dan aku terkejut melihat siapa yang berdiri di depanku.
“YoSeob...”
“SooMi...aku...”
Aku sudah tidak peduli dengan apa pun, aku berleri memeluk Yoseob.
“Kau jahat!”, aku menangis di pelukan YoSeob, “Kenapa kau tidak memberitahuku dari dulu? Kenapa kau bilang kau membenciku? Kau...”
“Mianhae...dulu aku mengira kau menyukai DongWoon.. aku menutupi perasaanku.. Jadi aku...”, YoSeob membalas pelukanku, “Mianhae...”
Kami melepas pelukan kami dan saling menatap.
“Mengapa kau belum pergi?”, aku menatap tiket pesawat di tangannya.
“Aku menunda kepergianku, karena ada yang belum kulakukan di Korea”, YoSeob tersenyum, “Saranghae...”, pelan, ia mencium bibirku.
Setelah beberapa saat, ia melepaskan bibirnya dariku dan membelai rambutku, “Aku suka rambutmu..”, YoSeob tersenyum, “Aku pasti akan pulang. Percayalah dan tunggu aku di sini.”
“Ne!”, aku tersenyum dan memeluknya kembali.
Kali ini, aku menatap kepergian pesawat YoSeob sambil tersenyum.
YoSeob a... Nan Gidarilkeyo...
~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*
Aku menutup buku harianku dan tersenyum. Aku melihat jam dindingku. Sudah jam 7. Aku harus bersiap-siap.
Kulajukan mobilku di jalan raya dan berhenti sebentar di lampu merah. Di seberang jalan kulihat orang yang sepertinya kukenal. Itu... Dongwoon dan Krystal... Aku tersenyum.. syukurlah mereka mendapatkan yang terbaik satu sama lain.
Mobilku berhenti di tempat tujuanku. Aku memarkirnya perlahan di tempat parkiran.
Aku masuk ke bandara, mencari sosok yang sudah kurindukan selama 5 tahun. YoSeob a...
Dan mataku terhenti pada seorang laki-laki berkacamata hitam yang sedang mendorong koper dan membawa bawaannya. Lelaki itu pun menatapku, lalu tersenyum sambil membuka kacamata hitamnya.
“Aku pulang...”
Aku tersenyum lebar, dan langsung berlari memeluknya.
“Selamat datang kembali... YoSeob...”
THE END
Labels:
B2ST,
For Reader,
One Shoot,
Romance,
Straight

