My Zone

2010/06/13

When You by My Side [PART 04]

"Changmin a.. Wae geurae?", suara Junsu hyung membuyarkan lamunanku.
"Ah.. Ani..", aku tersenyum menjawab pertanyaan Junsu hyung dan aku pun kembali menatap ke luar mobil, menatap kosong pada bangunan-bangunan jalan yang seperti sedang bekejar-kejaran. Sesaat, senyum perempuan itu melewati benakku. Feli..cia..
Hmm. Kepalaku jadi berat. Aku menyandarkan kepalaku pada kursi mobil dan menutup mata sejenak.

"Mwo? Pergi lagi?", lagi-lagi suara melengking Junsu hyung.
"Kau tidak usah. Besok aku saja yang akan mengambil hasil pemeriksaannya", jawaban manager hyung menimbulkan hela nafas lega dari Junsu hyung.
Tiba-tiba seluruh tubuhku mencerna dan bereaksi terhadap kata-kata manager hyung. Tubuhku langsung menegak dan mataku langsung terbuka menatap manager hyung.
"Hyung? Besok mau ke rumah sakit lagi?", bibirku refleks membentuk kata-kata itu.
"Ne. Aku harus mengambil hasil pemeriksaan Junsu. Wae geuraeyo?"
"Aku...boleh ikut?"
Aku melihat gerakan serempak dari dua orang yang ada di hadapanku. Gerakan yang mengekspresikan rasa bingung mereka.

"Changmin?? Untuk apa?", suara lembut Jaejoong hyung mengusik tidurku dari luar kamar hotel.
"Aneh. Biasanya dia jarang mau ikut kemana-mana", kudengar suara tegas Yunho hyung menanggapi pertanyaan Jaejoong hyung.
"Nado molla. Aku juga kaget ketika dia bilang mau ikut ke rumah sakit lagi. Kukira dia akan lebih memilih tidur dan makan saja di hotel", suara melengking ini...hmm.. Junsu hyung.
"Apalagi hanya untuk mengambil hasil pemeriksaan. Sama sekali tidak penting. Ada apa dengannya", suara serak Yuchun hyung.

Memang salah kalau sekali-kali aku ingin keluar? Hyungdeul ada-ada saja. Aku bangun, menapakkan kedua kakiku pada karpet kamar, dan melangkahkan keduanya menuju pintu kamar. Sebelah lenganku bergerak menekan gagang pintu kamar hotel, lalu mendorongnya, membuka pintu kamar, membuat hyungdeul serempak memutar lehernya ke arahku karena mendengar suara pintu yang berderak pelan.
"Pagi, hyung", sambil menguap, aku berjalan menuju kearah meja tempat mereka berempat berkumpul.
Aku duduk di sebelah Yunho hyung sambil membolak-balik koran pagi yang terletak di atas meja. Jaejoong hyung menuangkan secawan teh dan menyodorkannya untukku.
“Gomawo, hyung”, aku meminum teh tersebut.
Aku sadar mereka berempat masih menatap aneh padaku, tapi kudiamkan saja.
Manager hyung berjalan cepat memasuki ruang utama kamar hotel kami, "Changmin? Kau baru bangun> Cepat siap-siap! Aku sudah mau berangkat ke rumah sakit"
"Ne, hyung..", dengan malas, aku menuju kamar mandi, meninggalkan tatapan bingung dari hyungdeul.
Aku tau pertanyaan apa saja yang beradu di pikiran mereka, tetapi...aku malas menjawabnya. Aku sendiri pun tidak jelas akan jawabannya. Untuk apa aku ke rumah sakit lagi..? Ketika pertanyaan itu bergerak di benakku, tiba-tiba wajah itu muncul lagi. Seakan itulah jawabannya.

"Aku masih harus menunggu antrian. Kau mau jalan-jalan dulu, Changmin?"
"Ne, hyung. Aku bosan", aku memakai tudung jaketku dan berjalan meninggalkan tempat dudukku.
"Hati-hati ya", hyung bicara sedikit nyaring.

Kakiku membawaku ke....lagi-lagi ke taman rumah sakit.
Kuamati bangku itu. Tidak ada.. Hmm? Apa sih yang kucari. Hhh.. Changmin a.. Kau ada-ada saja. Aku berbalik, kembali menuju ke dalam rumah sakit.

Kakiku terus melangkah tanpa tujuan, menyusuri koridor rumah sakit.
Tiba-tiba kudengar rebut-ribut dari kamar 207.
Tentunya dengan bahasa yang tidak kumengerti.
Rasa penasaran ditambah dengan rasa bosan, memaksaku untuk mengintip sedikit.

"Sudah kubilang jangan terlalu capek! Nanti kalau kau kenapa-kenapa..."
"Aduh dokter.. Au tadi Cuma bosen aja... Jadinya aku main-main sedikit sama anak-anak di luar.."
"Sedikit?? Kulihat kau berlari-larian dengan anak-anak di taman!"
"Abis bosan...sepi..."

Itu...perempuan kemarin! Hmph. Au merasa ujung-ujung bibirku tertarik ke atas melihatnya.
Tiba-tiba aku mendengar derap-derap langkah kecil berlarian ke arahku dan...aawMereka menyenggol kakiku. Aku kehilangan keseimbangan, tetapi untunglah aku sempat berpegangan pada dinding.
Sepertinya dua orang yang sedang ribut itu menyadari keberadaanku. Mereka menoleh ke arahku dan terlihat terkejut.
Perempuan itu... emm... Feli... Dia tampak terkejut lagi.. Dan lagi...pipinya merona lagi.... Hmm. Senyum kecil terkembang lagi d wajahku.
Ah. Aku belum minta maaf!
"Ah.. Sorry.. I.."
"Who are you?", dokter itu tampak sedang mengamatiku. Ia menaikkan posisi kacamatanya.
"I'm..err", aku selalu dalam kesulitan jik ada orang luar yang bertanya siapa aku..
"Dia temanku, dok..", bahasa yang tidak kumengerti lagi, tapi sepertinya Feli menyelamatkanku.
"Temanmu?", mata dokter itu meneliti diriku.
"Baiklah, aku pergi dulu, masih ada tugas. Jaga dirimu, Fel! Jangan terlalu cape!", Dokter itu berjalan menuju pintu kamar, menatapku sejenak sebelum melewatiku, lalu pergi begitu saja. Kurasakan hembus nafas lega dari mulutku.
Permpuan it..Emm.. Feli.. Tersenyum melihat kedatanganku. Otomatis bibirku juga terkembang melihat senyumnya.
"Oppa..?", dia memanggilku malu-malu. Aku tersenyum dan perlahan melangkah menuju tempat tidurnya.
"Come..again?", dia malu-malu bertanya padaku.
Aku tersenyum, "It's so bored in hotel"
Dia mengangguk-angguk malu. Matanya tidak berani menatapku.
"Can I sit here?", aku menepuk pinggiran kasur yang ia tempati. Mata sipitnya kembali membesar melihatku, menatpku tidak percaya.
"Can't I?", aku mengulang pertanyaanku dan dibalas dengan anggukan malu-malunya lagi.
Aku tersenyum dan duduk di samping ranjangnya. Mataku mulai berkeliling menjelajahi kamarnya, lalu terhenti pada makanan di sebelahnya.
"This is...", aku tidak pernah melihat makanan itu sebelumnya.
"Ah. That food? Ketoprak..", Feli menjawab rasa penasaranku.
"Ke..to.. Sorry?", nama makanan yang sulit sekali.
Feli tersenyum. Ia mengambil secarik kertas dan pensil. Dia menggores-goreskan pensil di atas kertas itu dan memperlihatkan kertas itu padaku. Aku kenal tulisan itu. Hangeul!
Mataku menelusuri tulisan itu dan mulutku menyuarakannya, "Ke..to..peu..rak", tawa kecil mengusikku.
"Haha. Unique name. Emm. You can write hangeul?"
Dia trsnyum, "But, i just can write n read it"
Aku menatapnya takjub. Kukira para fans hanya belajar menuliskan nama kami dalam hangeul. Ternyata.. Apa semua fans begini?

Tiba-tiba kurasakn getar hendphone di celanaku. Aku berdiri, merogoh kantung celanaku. Kugapai handphoneku, membuka flipnya, dan menempelkannya d telingaku, "Yoboseyo? Hyung? Jigeum? Memang hyung sudah selesai?", aku melirik Feli sejenak, "Ah. Ne. Aku kesna", kututup handphoneku.
"I must leave now. Sorry."
Feli tersenyum, "Never mind"
"Bye", senyumku menandakan perpisahan hari ini. Semoga aku bisa bertemu dengannya lagi.
Kubalikkan tubuhku, bersiap mau pergi, tapi langkahku terhenti. Kurasakan sebentuk tangan mungil menahan tanganku.

To be Continue~

2010/06/12

When You by My Side [PART 03]

"Junsu a.. Changmin a.. Kaja! Yunho, Kau yang bertanggung jawab terhadap Jaejoong dan Yuchun ya", manager hyung sudah siap dairtadi.
"Ne, hyung kkokjongman.. Kita sudah bukan anak SMA lagi, hyung", jawab Yunho hyung.
"Baik kalau begitu kami pergi dulu. Kami akan cepat pulang. Jangan lupa pakai topi, kacamata hitam, jaket, dan masker mulut kalau bisa. Keluarlah dari pintu dapur hotel. Ara??"
"Ne.. Araseo", Yunho, Jaejoong, dan Yuchun hyung menjawab serempak.
"Geureom, kami pergi dulu. Kaja!", manager hyung mendorong pelan punggungku dan Junsu hyung.

"Hyung? Lma skali?", ak dan manager hyung menunggu Junsu hyung yang sedang dperiksa di dalam kamar periksa.
"Bersabarlah. Kalau kau jenuh, jalan-jalan saja dulu.", aku heran. Hyung tampak tidak bosan sama sekali.
"Baiklah. Aku jalan-jalan di sekitar sini saja..", aku pun pergi meninggalkan hyung yang duduk sambil membaca buku.

Langkah kakiku membawaku sampai ke taman rumah sakit. Panas sekali. Aku membuka topi kuplukku, mengurusi rambutku yang berkeringat. Kubuka kacamata hitamku, mengelap wajahku yang berkeringat. Tiba-tiba aku tersadar, aku sedang ada di luar. Aku segera menoleh ke sekeliling, tidak ada yang sadar akan keberadaanku. Beberapa orang menoleh melihatku namun tidak ada yang tahu siapa aku ini. Ak tersenyum. Benar kata hyung. Di sini jarang ada yang tahu tentang kami. Aku tertawa kecil dan kembali memakai topi serta kacamataku.
Aku melepas lelah, duduk di bangku taman yang terbangun di bawah pohon yang sejuk. Kubaca buku untuk meredam kebosanan, tetapi teriknya matahari selalu ingin membuatku untuk menutup mata. Aku menutup wajahku dengan buku, dan tertidur...

"Wah.. Panjang sekali kakinya.."
Sepertinya aku sudah terbangun. Aku mendengar suara seorang perempuan yang berbicara dengan bahasa yang tidak kumengerti.
"Ah.. Disini sejuk.. Enak srkali.."
Sepertinya perempuan itu duduk di sebelahku. Aku tetap enggan menyingkirkan buku yang menutupi kedua mataku, aku masih ingin tidur.
Kudengar perempuan itu bersenandung.
Dan..aku kenal lagu itu!
Ahh.. Mana mungkin.. Itu pasti lagu lain yang mirip dengan lagu yang kukenal itu.. Hmm.. Yang tau tentang kami di sini kan tidak banyak.
Tiba-tiba aku merasakan basah di celana jeansku.
"Ah.. Maaf.."
Sepertinya perempuan itu menumpahkan air di celanaku.
Aku menyingkirkan buku dari wajahku dan melihat celanaku. Bagian paha kiriku basah.
"Maaf. Maaf sekali. Aku tidak sengaja", kulihat perempuan itu berkali-kali membungkuk. Aku tidak mengerti bahasanya, tetapi sepertinya ia sedang meminta maaf.
Hmm. Bagaimana aku menjawabnya? Mungkin dengan bahasa Inggris?
Aku melepas kacamata hitamku dan tersenyum kepadanya, "Never mind.."
Kulihat perempuan itu sangat terkejut ketika melihatku. Sangat, sangat terkejut. Mukanya kelihatan memutih seketika. Kenapa ya? Tidak mungkin kan ia terpana melihat senyumku? Senyumku tidak sekiller Jaejoong hyung atau semanis Junsu hyung.
"Are you allright?", tanyaku padanya. Semoga dia bisa mengerti bahasa Inggris..
Perempuan itu masih tetap terkejut. Matanya kosong menatapku.
"Ga...mungkin..", ktanya. Lagi-lagi dalam bahasa yang tidak kumengerti..
“Ngga! Ngga mungkin aku salah lihat dan ini juga bukan mimpi!”, perempuan it uterus berbicara kepada dirinya sendiri,”Apa dia hanya orang yang mirip? Tapi ini mirip banget!”, bingungku terus menguasaiku karena tingkah lakunya dan bahasanya, “Apa gue nanya aja.. Tapi...”, ia terus asik dalam dunianya sendiri.
"Sorry?", akhirnya aku mulai bicara karena aku tidak tahan lagi dengan bingung yang terus menguasaiku. Semoga dia mengerti kalau aku bukan orang Indonesia.
Tetapi perempuan it uterus menampakkan keterkejutannya. Aku semakin tidak mengerti.
"You...", akhirnya perempuan itu bersuara dengan bahasa yang kumengerti, terima kasih Tuhan..., "Are you... Changmin..?"
Kali ini aku yang terkejut. Bagaimana dia bisa tahu aku? Padahal yang mengetahui kami di sini kan tidak banyak. Tapi dia...
Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan. Apakah aku harus jujur atau menghindar darinya..
"Please.. Tell me the truth..", mata permpuan itu memelas. Entah kenapa aku melihat harapan yang besar dari kedua bola matanya. Harapan yang berharap akumengatakan kalau akulah Changmin. Baiklah, aku kalah dari matanya, "Yeah..."
Mata sipit perempuan itu membesar, terbelalak. Ia menggeleng-geleng, menahan nafas, terkejut. Refleks, ia berteriak, "IMPOSSIBLE! You...", belum selesai ia berkata, aku langsung memberinya isyarat untuk berhenti bicara. Perempuan itu pun langsung menutup mulutnya dan menoleh ke sekeliling.
"Please, don't tell anyone about me.", giliran mataku yang memelas dan sepertinya perempuan itu juga kalah dari mataku. Ia pun mengangguk setuju.
"How do you know about me? I think there just a little of people in here that know about me and my brothers", aku mulai menyuarakan penasaranku.
"Yes. And I am one of those people. I am Cassiopeia.", matanya berbinar-binar ketika menjawab pertanyaanku.
Tanpa sadar aku tertawa kecil melihatnya. Sungguh perempuan yang menarik. Apa semua Cassiopeia Indonesia seperti ini?
"Ehm.. Did you sing our song just now?"
"Yes. Hug! I really love that song..", matanya berbinar-binar lagi. Lucu sekali.
"Can you sing it again..?"
"Ah.. Me..? I...", perempuan itu tampak malu dan enggan menyanyikannya sekali lai di hadapanku. Wajahnya mulai terlihat pink dan memerah.
Tanpa sadar, tawa kecilku mengusikku lagi.
"Sing it.. For me.."
Mendengar kata-kataku, perempuan itu sepertinya menjadi bersemangat, ia mengangguk dan mulai bernyanyi pelan.
"Haruman ni bangui chim naega dweigo sippo~~", ia mulai bernyanyi, malu2. Hmmp. Kurasakan senyum kecil mengembang di wajahku, melihat raut wajahnya yang seperti itu.
Pelan-pelan aku mulai ikut bernyanyi. Kami pun bernyanyi berdua.
"Yongwonhee~", selesai. Aku tersenyum, tapi perempuan itu malah menunduk malu.
"I like your voice..", aku memujinya dan wajah perempuan itu pun semakin memerah. Sesaat, kata ‘dia manis’ terlintas di pikiranku.
"T..thanks", dia terlihat gugup. Suasananya menjadi aneh. Apalagi aku juga tipe orang yang tidak begitu pandai bicara. Hmm.
"Can i know your name..?"
Perempuan itu sedikit terkejut mendengar pertanyaanku, walaupun tidak sekaget tadi..
"Tan..tra.."
"Ta..", aku coba mengulangi namanya...tapi entahlah...sulit..
Perempuan itu tersenyum, "My friends usually call me Tantra. But, if that name too hard for you, you can call me Feli. Felicia. My family usually call me Feli"
"Feli..cia..", aku tersenyum. Lebih mudah memanggilnya seperti itu daripada Ta...apalah itu "Ok, i'll call you with that name, Feli.."
Pipinya memerah lagi. Ia pun memnunduk kembali.Mataku tertuju pada piyama yang ia pakai.
"Are you... a patient in here?"
Kali ini dia tersenyum pahit. Matanya menyuarakan rasa sakit.
Lho..? Kenapa..? Aku...tidak suka melihatnya seperti itu.. Hmm..

To Be Continue~

2010/06/10

When You by My Side [PART 02]

Aku menuruni tangga pesawat dan menapakkan kaki di lapangan terbang. Kuhirup udara tropis Indonesia. Kutengadahkan kepalaku ke langit, tanganku langsung melindungi kedua mataku dari teriknya matahari.
"Indonesia? Akhirnya..", seru Junsu hyung di belakangku setelah turun dari tangga pesawat.
"Ne. Sudah lama ingin ke sini..", timpal Yuchun hyung yang ada di sebelahku.
Yunho hyung di depanku hanya tersenyum. Ia mengenakan kacamata hitamnya dan berseru, "Kaja!"
Kami berempat berjalan mengikuti Yunho hyung memasuki airport.
Aku mendengar banyak teriakan orang yang membahana ketika Yunho hyung yang mendahului kami masuk ke dalam airport, diikuti Jaejoong hyung, Yuchun dan Junsu hyung, lalu yang terakhir aku.
Kami berlima melambai pada fans yang telah menunggu kedatangan kami. Di luar dugaan, mereka tak sesedikit yang kami kira.
"Hyung, kata hyung yang mengenal kami di sini tak sebanyak yang mengenal kami di Thailand atau Malaysia. Tapi ini...", bisik Jaejoong hyung pada manager hyung sambil berjalan.
"Haha. Mereka ini lah yang mengenal kalian. Di luar ini jarang ditemukan ada yang tahu tentang kalian. Kalau kalian berkeliaran hanya dengan kacamata hitam dan topi, mungkin kalian bisa bebas.", jawab manager hyung.
"Jincaro, hyung? Haha. Ada bagusnya juga", Junsu hyung yang daritadi mendengar pembicaraan mereka ikut menimpali.
Manager hyung hanya tertawa mendengar kata-kata polos Junsu hyung.

Kami berlima masuk ke dalam mobil dan melambai untuk yang terakhir kalinya kepada para fans. Yunho hyung melempar flying kissnya dan kulihat para fans berlomba-lomba menangkap invisible kiss it.
Aku tertawa kecil dan memukul pelan bahu Yunho hyung, "Hyung.. Neo jinca.."


Mobil kami menyusuri jalan besar, berbelok menuju sebuah hotel besar berpapan nama ‘Grand Hyatt’, dan akhirnya kami pun berhenti di depan hotel tersebut.
Seorang pria membukakan pintu mobil kami dan membungkuk ketika kami keluar mobil. Terdengar lagi teriakan para fans di sekeliling kami, kami pun melambai pada mereka.
Langkah kami perlahan memasuki hotel, diiringi para fans.
"Hyung, berapa lama kami di sini?", Yuchun hyung bertanya pada manager hyung sambil tetap berjalan.
"Mungkin sekitar seminggu lebih. Kalian diberikan waktu bebas selama seminggu sebelum menggelar konser di sini."
"Mwo? Hyung tidak bercanda kan? Kok...", Yunho hyung tampak tidak percaya.
Manager hyung tertawa, "Ini kali pertama kalian ke Indonesia. Manfaatkan waktu kalian baik-baik. Oke?", hyung menepuk lembut punggung Yunho hyung.
"Hyung? Jinca?? Gomawo!", Junsu hyung merangkul manager hyung sambil berjalan. Junsu hyung tampak paling antusias.
Aku tertwa kecil dan kami berlima terus berjalan, menuju kamar kami.

"Uwaaa!", Junsu hyung malempar dirinya ke atas ranjang besar dalam posisi telungkup.
"Ya! Junsu a. Bereskan barang-barangmu dulu", Yunho hyung meletakkan barang-barang bawaannya dan segera membongkarnya.
"Sabar, hyung. Aku capek. Waa", Junsu hyung membalikkan bdannya menjadi telentang.
Aku menaruh barang-barangku juga dan menghempaskan tubuhku di atas pangkuan sofa, "Benar kata Junsu hyung. Cape sekali, hyung.", aku menyandarkan leherku di atas sandaran sofa.
Jaejoong hyung ikut membereskn barang-barang bawaan, sedangkan Yuchun hyung mulai menuju ranjang Junsu hyung untuk mengganggunya.
Manager hyung hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan kami berlima yang berbeda-beda.

"Ohya, Junsu a..", panggil manager hyung.
"Ne, hyung? Wae geurae?", jawab Junsu hyung.
"Besok kau ke rumah sakit ya? Kau belum melakukan cek kesehatan sebelum kesini. Ada dokter kenalan disni. Nanti aku akan menemanimu. Ya?"
"Ne, hyung. Geundae, hyung yakin tidak apa-apa hanya dengan kacamata hitam dan topi?", Junsu hyung tampak ragu.
"Kkokjongman. Kan ads hyung nanti. Ada yang mau temani kami?"
"Aku saja, hyung", ak menegakkan leherku.
"Ok. Yang lain?", manager hyung menoleh ke hyung yang lain.
"Sepertinya besok kami mau jalan-jalan sendri, hyung. Hehe. Gwenchana? Lagipula hyung yang bilang di sini jarang ada yang tahu tentang kita. Karena itu kita juga tidak boleh berlima terus agar bisa membohongi orang yang mengenali kami dengan kata ‘kau salah orang’, lalu pergi menghindar", usul Yunho hyung.
"Ya? Darimana kau belajar kata-kata itu?", Jaejoong hyung tertawa dan menonjok pelan lengan Yunho hyung.
"Benar juga. Ya sudah. Besok aku, Junsu, dan Changmin akan ke rumah sakit. Kalian hati-hati yah.."
"Beres, hyung", jawab Jaejoong hyung, Yunho hyung, dan Yuchun hyung bersamaan.
Aku menatap langit-langit hotel dan tersenyum. Indonesia... Seperti apa ya.. Aku tidak sabar menantikan besok hari. Perlahan mataku tertutup.
Aku tertidur di sofa.

To be Continue~